Restoran adalah satu dari banyak jenis tempat makan yang sering dikunjungi oleh orang yang lapar. Berbagai jenis restoran jelas sudah ada dari jaman pertama Indonesia merdeka hingga kini. Ada yang masih bertahan ada yang sudah bangkrut. Tapi kita tidak akan membahas tentang resto-resto tersebut. Saya lebih tertarik membahas resto dengan masakan khas rumahan yang mulai marak sejak tahun 2005. Ya, resto yang umumnya sebelum ada gebrakan baru bermuka lama ini lebih dianggap sebagai tempat makan dengan masakan dan citarasa yang jarang dimasak di rumah. Tapi sejak kemunculan salah satu resto -sebut saja dapur desa- kemunculan restoran dengan menu rumahan ini mulai menjamur di kota Surabaya.

Perbedaan dari tiap resto rumahan pun cukup terlihat. Mulai dari perbedaan interior, suasana, hingga merk dan tempat. Ada yang berdiri sendiri ada juga yang masuk hingga mall. Meskipun dengan citarasa yang ga worth it menurut saya pribadi.

Kecenderungan resto rumahan ini seperti ingin membuat pengunjungnya feels like in village -maaf kalo salah bahasa inggrisnya :D – . Ya, resto rumahan sejauh yang saya temukan tidak pernah lepas dari ornamen khas pedesaan. Mulai dari caping yang digantung sebagai pajangan, lukisan sawah dan pegunungan, gazebo sebagai penerima tamu di pintu masuk, pelayan yang berdandan ala jawa yang lebih cocok disebut berdandan ala pelayan pernikahan jawa, dan satu yang tidak pernah tertinggal yaitu lagu jawa, dan ada juga yang isinya hanya permainan instrumen jawa saja.

Mau tau tentang keistimewaan rasa dari resto rumahan itu?? Jangan minta lebih lah. Membuat ornamen seperti desa udah terlalu mahal, mau minta rasa yang istimewa. Ya, rasanya hanya bisa dinikmati karena ornamen. Maksudnya? Sama seperti ketika menikmati kafe kelas ecek-ecek yang bermain dengan ornamen yang bagus tapi rasa dari minumannya jauh dari harga. Jadi datang seperti hanya untuk menikmati rasa seperti pulang ke kampung halaman. Itu saja.

Cukup membahas tentang resto rumahan dan tetek bengeknya. Sekarang saya akan bahas salah satu resto makanan rumahan yang cukup terkenal dengan pecelnya : Pecel Bu Kus. Resto satu ini pada awalnya hanya khusus berjualan nasi pecel dengan berbagai macam lauk. Namun lambat laun karena semakin banyak resto makanan rumahan akhirnya dibuatlah masakan selain pecel seperti sop buntut, nasi campur, garang asem patin, dll.

Pecel Bu Kus ini dari awal saya tahu sudah dengan trade mark nya sendiri sebagai resto pecel kelas premium yang menyajikan kearifan lokal sebagai daya tarik marketingnya. Antara lain dengan menggunakan lagu-lagu jawa, dan rasa yang lebih desa dibandig pecel umum yang mengikuti selera pasar, interior dibikin nyaman tanpa terlalu banyak ulah seperti resto makanan rumahan. Sedikit mengagetkan ketika pertama menjajal pasar Surabaya, karena waktu itu harga seporsi pecel tanpa lauk Rp 7.000. Saya tahu itu pada kisaran tahun 2002 akhir. Dan sekarang harga seporsi nasi pecel sudah Rp9.000 per porsi. Tapi kenyataan kalau Pecel Bu Kus masih ramai membuktikan bahwa memang inilah kekuatan bumbu rahasia. Bukan hanya modal interior bagus, lalu pelanggan digorok lehernya dengan harga yang parah tanpa ada kesan spesial dari masakan yang disajikan.

Perbedaan Pecel Bu Kus dengan resto masakan rumahan yang lain tentu banyak. Mulai dari bumbu rahasia, harga yang cukup wajar, dan kesan yang tertinggal memang bagus. Bumbu pecel yang kental, manis, dengan rempeyek yang renyah dan jumbo serta enak, lauk dengan rasa yang cukup enak, serta variasi menu lain yang cukup enak membuat orang ingin kembali meskipun frenchise resto masakan rumahan sudah mulai menjamur di Surabaya akhir-akhir ini. Sekali lagi ini adalah kekuatan lidah. Bukan kekuatan mata. Karena orang lapar perut lidah yang akan berpikir, bukan mata. Mau bukti? Orang yang lagi lapar berat akan memilih warung di dekat kantornya kalau rasa yang disajikan lebih enak dibanding resto masakan rumahan yang jaraknya beberapa ratus meter dari kantornya.

Gak Cuma Makan ga bahas bumbu rahasia bagai kritik tanpa saran. Bumbu rahasia dari Pecel Bu Kus ini terletak pada pemilihan gula merah yang memang tidak terlalu manis dibanding gula jawa pada umumnya. Dan mungkin tidak ada tambahan gula dan garam untuk menambah rasa. Ini yang harus dicatat oleh mereka yang ingin menyajiakn bumbu pecel. Jangan sekali-kali menambah gula dan garam cukup banyak. Karena akan merusak rasa nikmat dari gula jawanya. Lebih baik tambah cabe. Harus cabe, jangan merica. Dan tambahan lagi, Pecel Bu Kus ini sejauh yang saya rasakan ga memakai daun jeruk sebagai perasa tamabahan. Beda dengan yang lain. Boleh dicoba sebagai variasi. Untuk bumbu pecel umum silakan gunakan search engine di GCM, karena saya sudah memabahasnya di salah satu tulisan tentang bumbu pecel yang umum.

Kekurangan dari Pecel Bu Kus ini terlalu ingin seperti fast food. Jadi apa-apa sudah disiapkan sebelumnya. Jadi lauk dan tambahan untuk pecel seperti sambal goreng tempe terasa kurang enak dinikmati kalau mau serius dinikmati. Seharusnya digoreng setengah matang, ketika ada pesanan tinggal digoreng lagi sebentar. Jadi lebih fresh dari wajan. Semoga jadi saran yang membangun untuk Pecel Bu Kus. But overall : recommended!!!

point

7,5/10

Salam

Gak Cuma Makan

About these ads