Bakso Pak Wage sebenarnya hanya sebuah bakso biasa yang sudah mangkal di depan SMA Negeri 21 Surabaya sejak saya sendiri belum bersekolah di sana. Menurut pak Wage sendiri, dia sudah berjualan di sana sekitar tahun 2004. Tepat dua tahun sebelum saya ditakdirkan masuk di sekolah yang teletak di jalan argopuro tersebut.

Bakso satu ini seakan menjadi favorit tersendiri bagi para siswa di SMA 21 ini. Dimana ini adalah satu-satunya bakso yang ada disana. Bisa dibilang sebagai variasi selain hanya makan nasi ayam, atau nasi soto, atau gado-gado yang ada di sekolah tersebut. Sejak pertama kemunculannya, pak wage memang sudah membuat sesuatu yang unik yang menurut ilmu ekonomi sih ini dikatakan sebagai marketing tanpa uang. Dengan cara apa?? Caranya dengan membuat pentol berukuran lebih besar 2-3 kali lipat dari pentol biasa. Tentunya dengan harga yang setara dengan kelipatannya.. Dan ternyata cara tersebut terbukti sukses membuat banyak siswa tertarik untuk mencoba.

Rasa adalah nyawa dari sebuah makanan. Pernyataan ini adalah nyawa dari kenapa bakso pak Wage begitu memikat bagi kebanyakan siswa dari tahun ke tahun. Pada saat saya pertama masuk ke SMA 21, sebenarnya sudah mengenal bakso satu ini. Dan buat saya sendiri, harganya sebenarnya cukup mahal untuk rata-rata pada waktu itu. Ditambah dengan uang saku yang waktu itu ga seberapa, membuat keengganan tersendiri untuk mencoba menu satu ini. Ditambah perut saya yang memang perut nasi, membuat saya lebih memilih makan soto ayam, atau nasi ayam di sekolah. Barulah pada saat kelas dua, uang saku yang bertambah membuat saya berani mencoba bakso pak Wage ini. Ya, baru kelas dua. Setelah satu tahun cuma ngiler digoda-goda pentol besarnya yang menggiurkan. Dan karena rasa dari pentolnya yang memang mantap, ditambah kuah yang bisa dibilang antara kering dan basah. Kering disebabkan lemak yang dipakai bukan lemak dari daging yang bisa dibeli Rp 5.000/kg, tapi dari lemak daging kaki yang memang daging di bagian tersebut adalah yang diolah untuk pentolnya. Itulah sebabnya kuah dari bakso pak Wage ini lebih terasa kering atau tidak cukup meninggalkan lemak di daerah mulut. Namun tetap dikarenakan lemak dari bagian kaki memang tidak terlalu kering -karena kalau mau yang benar2 kering terdapat pada bagian kepala sapi- itulah sebabnya saya katakan tidak cukup kering.

Saatnya membongkar semua isi bakso.🙂

Kita mulai dengan gorengan. Gorengan dari bakso pak Wage memiliki rasa rata-rata. Berisi wortel, kubis, tepung, kulit pangsit digoreng cukup kering. Saya adalah salah satu orang yang tidak cukup menyukai gorengan jika gorengan tersebut tidak memiliki keistimewaan. Tapi benar, secara obyektif gorengan ini tidak ada istimewanya.

Tahu di bakso pak Wage ada dua macam. Satu digoreng, satunya tidak digoreng atau cuma direbus. Namun keduanya tetap berisi tepung dan tetap direbus walaupun yang satunya digoreng terlebih dahulu. Isian tahunya yang memang tidak ada rasanya membuat Tahu ini pun tetap tidak ada keistimewaan yang bisa dibahas.

Siomay di bakso ini sedikit berbeda dengan tahu dan gorengannya. Siomaynya memang tidak ada yang berbeda dibanding yang lain, namun lebih berisi dan kulit pangsitnya tipis. Pertama yang membedakannya adalah isi dari siomay yang antara lain tepung tapioka, kubis, dan daun bawang ditambah dengan garam secukupnya membuat siomaynya memiliki rasa yang sedikit lebih istimewa.

Pentol untuk sebuah bakso adalah nyawa dari sebuah bakso. Kalau rasa adalah nyawa dari sebuah masakan, pentol adalah nyawa kedua dari sebuah makanan yang orang indonesia sendiri dinamakan : Bakso. Bahkan saya pernah tulis di salah satu tulisan saya di dunia bond chan kalau pentol adalah yang paling istimewa dari pesta makan bakso. Bisa di cek di sini. Pentol di Bakso pak Wage memiliki dua jenis. Besar dan kecil. Untuk pentol halusnya bisa dibilang biasa. Untuk pentol kasarnya memiliki rasa khusus dan inilah yang istimewa. Karena pentol kasarnya ini seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, salah satu bahannnya adalah daging kaki sapi. Ya, inilah yang istimewa.

Kaki sapi adalah sudah sejak lama terkenal memiliki daging yang mempunyai rasa sangat gurih, berlemak, namun harus lebih sabar untuk memasaknya. Karena dibutuhkan waktu cukup lama untuk membuat dagingnya empuk. Namun di bakso pak Wage, dagingnya sudah diolah 3/4 empuk untuk menjaga nama pentol kasar dimana ada urat yang masih keras. Dagingnya pun tidak hanya diambil untuk pentol saja, lemak yang luntur dari proses mengempukkan daging kaki sapi pun tidak dibuang. Karena lemaknya bisa dijadikan kuah untuk baksonya. Tinggal ditambah Merica, Garam, Daun bawang yang putihnya saja, voila!!! Kuah bakso pak Wage yang terkenal nikmat pun jadi.

Bakso pak Wage ini memiliki keanehan tersendiri bagi yang pertama mengenalnya. Karena bakso ini awalnya dikira hanya melayani siswa-siswi di SMAXXI saja, namun bagaimana bisa pak Wage tetap berjualan di hari sabtu dan minggu? Ya, jika pertama dilihat memang seharusnya untuk saat ini bakso pak Wage hanya nangkring setiap hari senin-jumat. Namun jika anda berada di sana pada hari sabtu dan minggu, anda akan sadar bahwa pasar pun masih ramai di weekend itu. Pertama, karena ekstrakulikuler berada di hari sabtu dan minggu. Ekstrakulikuler yang ada di SMAXXI pun tidak sedikit. Tinggal dihitung saja, berapa ekskul yang ada dikalikan sepuluh untuk setiap anggota ekskul. Itu adalah uang.😀 Belum lagi, karena lidah memang tidak pernah bohong hingga akhirnya alumnus SMAXXI yang sudah sangat mengenal bakso ini pun hingga akhirnya kembali lagi untuk sekedar menikmati jajanan masa SMA mereka. Dan untuk sekedar menikmati kenangan masa SMA lagi. Itulah sebabnya, bahkan hari sabtu minggu pun buat pak Wage tetap harus berjualan karena money never sleep.🙂

Buat para alumni, Bakso pak Wage adalah salah satu yang harus dicoba kalau ingin kembali menikmati masa SMA. Selain tentunya ada beberapa kuliner yang patut dicoba dan bisa dinikmati walaupun tidak masuk ke sekolah lagi. Seperti gado-gado, soto ayam, dan nasi ayam serta warung kopi depan SMAXXI.

Overall

7,5/10

Salam

-Gak cuma makan-