Lama banget ga ngurusin blog yang satu ini. Yah lebih lama dibanding saya ngurusin blog Dunia Bond Chan sih. Karena memang tahun ini bisa dibilang menjadi tahun yang sibuk banget.. Bahkan setengah tahun berjalan, kesibukan masih penuh terus. Makanya buat pembaca yang butuh referensi tentang makanan di sini, maaf karena jarang mengupdate..

Kali ini pembahasannya sedikit ringan dan sedikit berbau opini sosial sih.. *ceileehh* Tentang rujak cingur. Kali ini kami ga sedang ngebahas tentang salah satu tempat makan seperti biasa. Tapi sekedar berbagi soal citarasa dari rujak cingur yang ga banyak orang menyadari. Segera nikmati tulisan ini buat menikmati cita rasa asli dari Rujak Cingur..

Rujak Cingur adalah makanan yang selalu mengingatkan kita dengan kota Surabaya. Ya, Surabaya memang menjadi kotanya rujak cingur. Dari sebuah rujak cingur, banyak yang tidak menyadari (walaupun sebenarnya tahu) bahwa rujak cingur itu memiliki campuran yang ramai dengan berbagai macam karakter rasa dicampur menjadi satu sajian dinamakan rujak cingur.

Mari kita bahas mulai dari apa saja bahan dari rujak cingur. Bahannya terdiri atas ketimun, krai (semacam ketimun yang entah apa bahasa Indonesianya), tempe goreng, tahu goreng, kecambah, kangkung, bendoyo, kacang goreng, mangga muda (jika lagi musim), nanas, bengkoang, belimbing, lontong, petis udang, terasi, gula jawa, terasi, garam, air asam jawa dan sebagai gong nya : Cingur atau mulut sapi. Jika dilihat secara bentuk tulisan mungkin banyak yang baru sadar bahwa rujak cingur ini memang memiliki campuran rasa yang banyak dibanding makanan lain. Buat yang masih bingung, coba dibayangkan.. Gimana rasa mangga muda, nanas,yang disandingkan dengan manisnya belimbing, ditemani segarnya ketimun dan krai serta tempe dan tahu goreng, serta disiram dengan saus yang merupakan campuran dari kacang goreng, gula jawa, terasi, air asam jawa, petis, bawang goreng, garam. Belum lagi sensasi renyah dan yang juga merupakan pelengkap dari kangkung, kecambah.. Dan sebagai pusat perhatian dan puncak adalah rasa amis dan lengket namun gurih yang dimiliki oleh cingur menutup karnaval di mulut penikmat Rujak Cingur. Baru sadar? Anda tidak sendiri. Karena setelah berapa tahun lamanya saya sering menikmati rujak cingur, baru ini saya benar-benar sadar bahwa rujak cingur ini mirip karnaval..

Karnaval selalu identik dengan deretan sesuatu yang berbeda namun jika disatukan menciptakan harmoni. Dan itulah gambaran yang pas untuk menyatakan rujak cingur. Entah bagaimana ide dari si empunya resep rujak cingur ini pertama kali, namun yang jelas rujak cingur menurut saya adalah sebuah makanan dengan resep yang hebat namun harganya sangat minim. Menurut ilmu culinary, sebuah masakan dengan resep yang cerdas harusnya bisa dijual dengan harga yang mahal. Meskipun resepnya sendiri jika ditotal cukup murah, namun yang dijual bukan lagi berhubungan dengan nilai ekonomi, namun ini cenderung ke nilai estetika. Itulah sebabnya kenapa harga makanan di fast food macam KFC, McDonald, dan semacamnya mematok harga yang tinggi untuk makananannya karena mereka memiliki resep rahasia. Dan sialnya karnaval rujak cingur nampaknya memang bernasib kurang bagus. Karena mau dibuat macam bagaimanapun masakan ini sudah terkenal murmer dengan sensasi yang luar biasa.

Saya mendadak ingat dengan salah satu depot yang menjual rujak cingur yang lebih banyak dikenal oleh orang di luar Surabaya. Saya lupa nama depotnya, namun disana rujak cingur dijual dengan harga 30ribu (tertanggal juli 2010). Porsinya sih sebenarnya banyak. Dan menurut yang jarang makan rujak cingur, porsinya bisa buat 3 orang. Namun buat yang sudah biasa pasti menganggap bahwa porsi di depot itu adalah untuk dua orang saja. Dengan anggapan harga tetap seperti terakhir kali saya makan disana dan dengan porsi saya orang yang baru mencicipi rujak cingur, rasanya memang murah. Namun buat orang Surabaya sendiri, harga segitu terhitung cukup mahal. Mengingat orang Surabaya mendapat hitungan harga 15rb/orang. Sementara harga rata-rata rujak cingur adalah 6.000 (per tanggal tulisan ini diposting). Dan sekarang entah bagaimana kabar rujak cingur tersebut. Namun yang jelas, saya lebih suka makan di rujak cingur yang satunya yang sama terkenal. Yaitu rujak cingur lapangan tenis embong sawo (meskipun tempatnya sekarang sudah tidak di kantin lapangan tenis embong sawo lagi). Karena harga lebih wajar dengan citarasa yang hampir sama. Yaitu sama-sama memiliki petis yang bercitarasa tajam menohok. Namun sekali lagi, inilah semacam realitas, ironi, atau apapun jika anda mau menganggap tentang keberadaan dari si rujak cingur. Dimana diluar sana makanan dengan karnaval rasa yang lebih pendek dari rujak cingur saja dapat dihargai hingga ratusan ribu, sementara si rujak asli Surabaya ini mau dihargai 15rb per porsi harus mendapat cibiran dari sana sini.

Dan sekali lagi inilah masakan yang menurut saya merupakan master piece dari Surabaya. Dengan segala kerendahannya, menunjukkan bahwa Surabaya adalah kota kuliner dengan kejujuran yang lebih bagus dibanding kota lain. Dimana anda bisa menemukan kuliner yang murah dengan rasa dahsyat asal tau kuncinya : Jangan masuk ke tempat makan dengan desain, dan segala macam yang bagus jika belum pernah tau ada referensi.