Kowawa..😀

Maaf yang kemarin malam udah nungguin tulisan buat edisi minggu ini baru bisa diposting sekarang karena emang kemarin pulang terlalu malam, dan seharian ada kesibukan. Jadi baru bisa buat dan posting sekarang. Tulisan kali ini, judulnya agak aneh ya? Tapi emang begitulah kenyataanya. Silakan dibaca, dipahami, dan sikap ada di pilihan anda soal waroeng steak ini.

Steak. Dewasa ini makanan ini semakin dikenal di kota-kota besar di indonesia. Makanan yang memang bukan makanan asli Indonesia ini, dulu lebih dikenal sebagai makanan kelas premium. Hanya orang dengan kantong tebal yang bisa menikmati sajian berbahan daging. Entah itu daging ayam, sapi, kambing, hingga daging cumi. Sedikit konyol mendengar steak cumi?  Coba di waroeng steak ini. Tapi maaf saya belum mencoba, lebih karena ga ada feel dan saya lebih suka menilai sebuah tempat makan –steak tentunya- dari cara mereka memasak steak pertama dan mungkin yang selalu menjadi signature dish dari sebuah tempat makan steak. Apa itu? Beef steak.

Semakin membuminya steak jelas tidak bisa dilepaskan dari frenchise ataupun tempat makan tunggal yang menjual steak dengan harga lebih membumi. Atau kalau saya boleh katakan steak kelas ekonomi. Steak kelas ekonomi sejauh yang saya tahu mulai booming pada tahun 2006 dengan dipelopori oleh frenchise steak : kampoeng steak. Dari situlah bermunculan orang yang mulai tertarik untuk membuka tempat makan steak kelas ekonomi. Dan latah pun sepertinya masih bertahan hingga sekarang.

Membandingkan steak ekonomi ini dengan steak kelas premium yang lebih dulu lahir di muka bumi, jauh sekali perbandingannya. Saya sempat memperkirakan usia dari steak ekonomi ini hanya seumur jagung. Yah pada kisaran 2-3 tahun saja. Tapi ternyata saya salah. Setelah saya analisa, kebutuhan akan hidup seperti orang kaya –atau kebarat-baratan- dengan budget minim masih laku di pasaran. Yang tentunya pembelinya pun anda sudah bisa menjawabnya. Padahal kalau saya pribadi membandingkan antara steak ekonomi dengan steak di beberapa resto yang cukup terkenal jauh banget rasanya tapi dekat harganya. Ga percaya? Silakan bandingkan steak di kampoeng steak dengan chicken cordon bleu solaria. Atau steak lain di solaria. Harga dekat bukan? Rasa? Jauhhhhhh..

Kenikmatan steak kelas ekonomi ini entah kenapa menurut saya hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memang hanya ingin beromantis-romantis ria ala sinetron, mereka yang ingin mencoba makan dengan garpu dan pisau meskipun acak-acakan kalau mau mengikuti aturan table manner, mereka yang ingin makan tanpa nasi tapi pake daging dan sayur-sayuran, dan mereka yang ingin seperti orang luar. Kalau mau jujur, mereka disajikan steak yang jadi perbandingan untuk steak kelas ekonomi diatas tadi lalu disajikan steak kelas ekonomi, mereka bakal berpikir dua kali mengatakan kalau steak premium itu enak. Boleh dicoba, hasil kabari saya lewat papan komentar.

Cukup ya membicarakan tentang steak kelas ekonomi. Kali ini saya mau bahas tentang salah satu tempat makan steak kelas ekonomi di Surabaya. Namanya adalah waroeng steak. Tempat ini berada di jalan kayoon, dekat dengan tugu bambu runcing dan PMI surabaya buat yang masih penasaran pengen mencoba setelah membaca review ini. Dari luar penampilannya keren. Boleh banget untuk menarik orang dari kelas kebawah hingga menengah dan orang keatas yang lagi bingung cari makan. Meskipun dari nama sangat tidak sesuai dengan ilmu marketing kalau dilihat pertama kali. Tapi ketika masuk, ya jangan salahkan mata anda atau ilmu marketing yang salah. Tapi ilmu marketingnya itu benar. Namanya waroeng steak. Mendengar nama itu sudah tentu untuk yang menengah kebawah. Bukan untuk menengah keatas. Meskipun interiornya bagus. Kreatif murah. Tapi kalau melihat kursinya, yah inilah warung. Bukan resto. Saya malas kalau harus ngomong lebih lanjut masalah kursinya. Karena menurut saya terlampau tidak menghargai. Sedikit saran untuk yang mungkin suatu ketika lewat dan kepincut untuk masuk, coba bayangkan anda makan steak tapi dengan kursi kaki lima. Ya, kursi kotak dari plastik itu.

Saya tadi sudah menulis tentang kenikmatan dari steak kelas ekonomi pada umumnya saya temui. Bagaimana dengan di waroeng steak ini? SAMA. Steak yang seharusnya di grill ini digoreng –untungnya tidak digoreng dengan cara deep fried- dan sudah barang tentu kalau daging digoreng jadinya gimana? Belum lagi steak yang pakai tepung itu tidak matang –maaf saya melihat punya teman saya ditambah dengan pengalaman di tempat lain yang serupa- tidak matang dari segi gorengan utamanya dan tidak matang dagingnya. Gossshhh.. Saus steak??? Jangan minta lah saus steak yang punya citarasa creamy,gurih, kadang ada juga pedasnya dll. Ini memang lebih kental dibanding tempat makan steak yang lain. Tapi rasanya tetap sama. Yang berbeda steak original –menurut penilaian mereka- saja yang dibubuhi jamur sebagai garnish. Jamurnya pun hambar.

GCM selalu membicarakan bumbu rahasia dari setiap tempat makan yang dijadikan bahan postingan. Itu kalau emang ada yang dirahasiakan. Meskipun yang dirahasiakan itu ga enak pun, akan tetap dibongkar. Tapi ini menurut saya ga ada yang dirahasiakan. Sama sekali ga ada. Kalau anda mau membuat saus steak yang sama dengan di waroeng steak, cari aja di google tambahkan irisan daun bawang, bawang putih tambah satu sampai satu setengah siung tambah merica cukup banyak dan sedikit garam. Dijamin rasanya jauh diatas yang di punya waroeng steak.

Point : 3/10

Salam

Gak Cuma Makan